PHBD
BERI PELUANG MASYARAKAT UNTUK BERDAYA
Ahmad Yasser Effendi
(Tulisan koran V, Harian WASPADA: Kamis, 23 Oktober 2015)
Program Hibah Bina Desa (PHBD)
adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh para mahasiswa
melalui Ikatan Organisasi Mahasiswa Sejenis (IOMS), Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Mahasiswa pelaksana Program Hibah
Bina Desa ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa peduli dan berkontribusi kepada
masyarakat di desa agar terbangun desa binaan yang aktif, mandiri,
berwirausaha, dan sejahtera.
Program Hibah Bina Desa merupakan
kegiatan tahunan yang diadakan oleh DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi). Melalui proses seleksi yang ketat dari seluruh Indonesia, seluruh tim
pelaksana yang beranggotakan 3 sampai 5 mahasiswa mengajukan berbagai program
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa binan. Melalui program
pemberdayaan masyarakat ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengembangkan
potensi diri sendiri dan juga masyarakat tujuan.
Event
yang sudah berlangsung sejak awal tahun ini saat ini sudah berada pada
tahap pelaksanaan telah memberikan efek yang signifikan terhadap mahasiswa, dan
terlebih lagi terhadap masyarakat. Salah satu desa binaan yang disetujui DIKTI
untuk menjalankan program ini adalah Desa Bogak, Kec. Tanjung Tiram, Kab.
Batubara, Sumatera Utara. Sedangkan mahasiswa tim pelaksana yang melakukan
pengabdian melalui pemberdayaan masyarakat di Desa Bogak adalah mahasiswa dari
Universitas Sumatera Utara. Tim pelaksana yang tergabung dalam kegiatan ini
terdiri dari 5 orang, yaitu: Anita Syafitri (sosiologi), Ahmad Yasser Effendi
(sosiologi), Ismi Andari (sosiologi), Rini Hayati Herman (ilmu dan teknologi
pangan), dan Andika Fernando (sosiologi). Tim
pelaksana di Desa Bogak secara keseluruhan berada dalam naungan satu
organisasi, yaitu Ikatan Mahasiswa Sosiologi (IMASI).
Mayoritas pekerjaan penduduknya adalah nelayan dengan
presentase 90% dari total penduduk. Masyarakat tersebut mayoritas memiliki
tingkat kesejahteraan yang rendah dikarenakan perekonomian mereka sebagian
besar bergerak disektor nelayan yang pendapatannya dipengaruhi dari hasil
penangkapan ikan serta sangat dipengaruhi oleh keadaan alam. Hal ini dibuktikan
oleh data kependudukan desa tahun 2013 bahwa pendapatan perkapita masyarakat
setempat hanya mencapai rata-rata 35 ribu/hari. Tentu saja pendapatan tersebut
masih tergolong rendah jika harus memenuhi biaya kehidupan sehari-hari seperti
makan, pendidikan, serta biaya hidup lainnya. Sehingga pendidikan anak-anak
yang ada di desa tersebut sangat rendah, bahkan sebagian dari mereka harus
putus sekolah karena lebih mementingkan membantu orang tua mereka melaut untuk
mencari ikan daripada melanjutkan pendidikan. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian
Manurung (2012), bahwa sebesar 53% hanya berpendidikan SD, 23% SMP, 18% SMA, 1%
Perguruan Tinggi, dan 5% Tidak sekolah (Manurung, 2012).
Penduduk
laki-laki setiap harinya melaut mencari ikan, biasanya juga dibantu oleh
anak-anak mereka. Sedangkan perempuannya di rumah, bekerja di sektor domestik
walau ada sebagian juga bekerja di sektor publik seperti membuat ikan asin dari
hasil tangkapan yang tidak laku. Selain memiliki potensi laut, Desa Bogak juga
memiliki potensi alam lokal lain seperti hutan mangrove yang luas yang dapat
diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi.
Hutan
mangrove ini belum dimanfaatkan potensinya secara maksimal oleh masyarakat setempat,
padahal pohon mangrove memiliki buah sebagai potensi lokal yang bisa
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan makanan dan minuman. Salah satunya
adalah pengelolaan buah mangrove menjadi berbagai macam makanan seperti buah nipah
menjadi manisan dan agar-agar, buah perpat menjadi jus (minuman) dan dodol,
serta buah api-api menjadi donat dan bolu. Selain buah mangrove, daun jeruju
juga dapat dikelola menjadi kerupuk. Potensi alam lokal selain dari tanaman
mangrove juga dapat berasal dari kulit kepah. Penduduk sekitar terkadang
mencari kepah di pantai, kepah hasil penangkapan tersebut dagingnya dijual
sedangkan kulitnya dibuang begitu saja, padahal kulit kepah tersebut memiliki
bentuk yang menarik untuk dapat diolah menjadi aksesoris serta souvenir-souvenir
yang bernilai ekonomis tinggi.
Banyak
potensi alam yang terdapat di Desa Bogak hanya saja masyarakat di desa tersebut
tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah dan memanfaatkan
potensi alam lokal di desa tersebut. Melalui Program Hibah Bina Desa yang
diadakan oleh DIKTI yang bekerja sama dengan mahasiswa diharapkan dapat
membantu masyarakat Desa Bogak untuk mengembangkan potensi diri mereka.
Pada
dasarnya pemberdayaan masyarakat adalah segala sesuatu yang dari masyarakat,
oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Sedangkan tim pemberdaya hanyalah sebagai
fasilitator saja, yang memberikan peluang kepada masyarakat melalui
pelatihan-pelatihan serta forum-forum diskusi. Segala permasalahan baik dari
proses produksi, distribusi, hingga konsumsi didiskusikan di dalam forum dengan
menghadirkan ahli yang berkompeten. Karena hasil pemberdayaan yang sesungguhnya
adalah masyarakat yang dapat memberdayakan diri mereka sendiri secara mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar