ROKOK DALAM RELASI SOSIAL
Ahmad
Yasser Effendi
(Tulisan koran II, Harian WASPADA: Kamis, 30 Januari 2014)
Untuk membangun suatu hubungan
sosial, terkadang seseorang menggunakan sesuatu (benda) sebagai alat untuk
dapat mendekati seseorang atau suatu kelompok orang. Awalnya benda tersebut
tidak memiliki arti apa-apa bagi kedua belah pihak yang menjalin interaksi
sosial, namun benda tersebut menjadi memiliki arti jika digunakan oleh salah
satu pihak dan diterima oleh pihak lain sebagai alat kontak yang menyampaikan pesan
simbolik dari kedua belah pihak (pihak pemberi dan penerima).
Hasil
observasi yang dilakukan oleh penulis tentang hubungan sosial antara orang yang
merokok dan tidak merokok, perokok tidak serta merta menggunakan rokok sebagai
alat untuk mengintegrasikan mereka dengan orang lain, terutama kepada yang
bukan perokok. Namun,untuk sesama perokok, mereka benar-benar memanfaatkan
rokok sebagai alat untuk menyatukan mereka. Sebagai contoh adalah ketika
perokok merokok dan menawarkan rokok kepada teman perokoknya yang lain, hal
tersebut mengisyaratkan perokok bahwa “Aku sama denganmu, temani aku merokok
dan mari kita mulai suatu pembicaraan”.
Hal
tersebut tentu tidak berlaku kepada teman-teman lainnya yang bukan perokok.
Bahkan dalam situasi ketika bersama dengan temannya yang bukan perokok, rokok
dapat dikatakan sebagai penghambat atau suatu yang menyebabkan disintegrasi
dalam hubungan sosial antara perokok dengan non-perokok. Sebagai contoh adalah
ketika perokok sedang merokok ketika sedang berkumpul atau bersama-sama dengan
teman bukan perokoknya, dengan perokok yang sedang merokok dan mengeluarkan
asap, akan banyak reaksi penolakan yang diberikan kepada perokok dengan aksinya
tersebut. Perokok bisa saja menjauh, atau temannya yang bukan perokok yang
akan pergi menjauhi sumber asap tersebut.
Faktor eksternal yang mendorong orang merokok selain alasan
kecanduan lingkungan sekitarnya yang lebih kuat bersifat mendukung daripada
menolak, ditambah lagi kebanyakan masyarakat menganggap rokok memiliki
stereotipi sebagai lambang kejantanan. Walaupun demikian, tidak mudah
menghilangkan kebiasaan merokok. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya
pilihan untuk dapat menghilangkan kebiasaan merokok, namun tetap saja
pilihan-pilihan tersebut hanya akan menjadi pilihan jika tidak dijalankan oleh
perokok. Alasan kesehatan bukan alasan yang kuat untuk memberhentikan seseorang
dari kebiasaan merokoknya. Kecerdasan manusia yang dinilai mampu
menginterpretasikan apa yang ada disekitarnya, membuat manusia memiliki banyak
pilihan dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri atau untuk hubungannya
kepada orang lain.
Walaupun banyak teman-teman perokok
yang menolak akan kehadiran rokok, namun rokok tetap bisa menunjukkan
eksistensinya dihadapan berbagai benda sehat lainnya (seperti permen, buah, dan
lain sebagainya). Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa keputusan perokok untuk
tetap merokok bukan hanya berasal dari dorongan rasa candu yang disebabkan oleh
rokok tersebut. Hal lainnya adalah sugesti yang ada dalam dirinya yang mengatakan
bahwa dengan merokok dia dapat berbicara dengan lancar, beraktivitas dengan
lancar, menghilangkan stress, berpikir dengan jernih, dan mudah bergaul. Itulah
sebab kebanyakan perokok tetap memilih rokok sebagai menu utamanya dalam
menjalin hubungan sosial dengan sesama perokok lainnya.
Hasil observasi memperlihatkan bahwa
perokok ingin berhenti dari kebiasaannya. Namun, dengan alasan sudah kecanduan
mereka tidak bisa lepas dari rokok. Hal itu tentu menimbulkan rasa ingin tahu
yang tinggi dari peneliti untuk mengetahui kenapa alasan kesehatan yang
diajukan oleh perokok, sedangkan rokok tersebut hanya dikonsumsi pada saat
perokok sedang bersama dengan teman-temannya. Ternyata perokok tersebut merasa
canggung dan kecil hati jika berhadapan dengan teman perokok lainnya (peer group) yang kebanyakan adalah teman
dekatnya dan sebagian besar keluarganya. Alasan kesehatan yang diajukan oleh
perokok bukan sekedar kesehatan pribadinya saja, namun juga kesehatan orang
lain yang menjadi perokok pasif ketika dia sedang aktif merokok.
Rokok
memiliki resiko yang sangat membahayakan bagi kesehatan tubuh. Adanya kondisi
yang permisif dari masyarakat kepada perokok membuat rokok tetap eksis. Menarik
untuk dikaji lebih lanjut lagi, bahwa rokok ini bukan hanya masalah kesehatan
saja, melainkan juga fenomena gaya hidup yang membahayakan. Agen sosialisasi
yang gencar seperti media massa, keluarga, masyarakat sangat mempengaruhi
pilihan seseorang untuk menjadi perokok atau tidak, ditambah lagi banyaknya
perusahaan rokok yang menjadi sponsor event-event
yang dekat dengan masyarakat, seperti konser, perlombaan, dan lain sebagainya,
dengan menggunakan SPG-SPG seksi
untuk menarik perhatian laki-laki yang menjadi pasar utama produk rokok.
Sudah
saatnya kita harus memikirkan alternatif lain yang lebih sehat dan tidak
merugikan diri sendiri dan orang lain sebagai pengganti rokok. Memang tidak
semudah yang kita bayangkan, karena rokok memiliki sumbangan besar terhadap
permasalah pengangguran di Indonesia, tetapi alangkah baik jika tenaga-tenaga
kerja tersebut disalurkan untuk hal-hal yang lebih positif lagi yang tidak
hanya memperhatikan apa yang laku dipasaran, tetapi juga memperhatikan segala
aspek negatif dan positif dari sebuah produk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar