Senin, 25 April 2016

Tulisan Koran Kedua

ROKOK DALAM RELASI SOSIAL
Ahmad Yasser Effendi


(Tulisan koran II, Harian WASPADA: Kamis, 30 Januari 2014) 
     Untuk membangun suatu hubungan sosial, terkadang seseorang menggunakan sesuatu (benda) sebagai alat untuk dapat mendekati seseorang atau suatu kelompok orang. Awalnya benda tersebut tidak memiliki arti apa-apa bagi kedua belah pihak yang menjalin interaksi sosial, namun benda tersebut menjadi memiliki arti jika digunakan oleh salah satu pihak dan diterima oleh pihak lain sebagai alat kontak yang menyampaikan pesan simbolik dari kedua belah pihak (pihak pemberi dan penerima).
     Hasil observasi yang dilakukan oleh penulis tentang hubungan sosial antara orang yang merokok dan tidak merokok, perokok tidak serta merta menggunakan rokok sebagai alat untuk mengintegrasikan mereka dengan orang lain, terutama kepada yang bukan perokok. Namun,untuk sesama perokok, mereka benar-benar memanfaatkan rokok sebagai alat untuk menyatukan mereka. Sebagai contoh adalah ketika perokok merokok dan menawarkan rokok kepada teman perokoknya yang lain, hal tersebut mengisyaratkan perokok bahwa “Aku sama denganmu, temani aku merokok dan mari kita mulai suatu pembicaraan”.
      Hal tersebut tentu tidak berlaku kepada teman-teman lainnya yang bukan perokok. Bahkan dalam situasi ketika bersama dengan temannya yang bukan perokok, rokok dapat dikatakan sebagai penghambat atau suatu yang menyebabkan disintegrasi dalam hubungan sosial antara perokok dengan non-perokok. Sebagai contoh adalah ketika perokok sedang merokok ketika sedang berkumpul atau bersama-sama dengan teman bukan perokoknya, dengan perokok yang sedang merokok dan mengeluarkan asap, akan banyak reaksi penolakan yang diberikan kepada perokok dengan aksinya tersebut. Perokok bisa saja menjauh, atau temannya yang bukan perokok yang akan pergi menjauhi sumber asap tersebut.
     Faktor eksternal yang mendorong orang merokok selain alasan kecanduan lingkungan sekitarnya yang lebih kuat bersifat mendukung daripada menolak, ditambah lagi kebanyakan masyarakat menganggap rokok memiliki stereotipi sebagai lambang kejantanan. Walaupun demikian, tidak mudah menghilangkan kebiasaan merokok. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan banyaknya pilihan untuk dapat menghilangkan kebiasaan merokok, namun tetap saja pilihan-pilihan tersebut hanya akan menjadi pilihan jika tidak dijalankan oleh perokok. Alasan kesehatan bukan alasan yang kuat untuk memberhentikan seseorang dari kebiasaan merokoknya. Kecerdasan manusia yang dinilai mampu menginterpretasikan apa yang ada disekitarnya, membuat manusia memiliki banyak pilihan dalam mengambil keputusan untuk dirinya sendiri atau untuk hubungannya kepada orang lain.
       Walaupun banyak teman-teman perokok yang menolak akan kehadiran rokok, namun rokok tetap bisa menunjukkan eksistensinya dihadapan berbagai benda sehat lainnya (seperti permen, buah, dan lain sebagainya). Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa keputusan perokok untuk tetap merokok bukan hanya berasal dari dorongan rasa candu yang disebabkan oleh rokok tersebut. Hal lainnya adalah sugesti yang ada dalam dirinya yang mengatakan bahwa dengan merokok dia dapat berbicara dengan lancar, beraktivitas dengan lancar, menghilangkan stress, berpikir dengan jernih, dan mudah bergaul. Itulah sebab kebanyakan perokok tetap memilih rokok sebagai menu utamanya dalam menjalin hubungan sosial dengan sesama perokok lainnya.
      Hasil observasi memperlihatkan bahwa perokok ingin berhenti dari kebiasaannya. Namun, dengan alasan sudah kecanduan mereka tidak bisa lepas dari rokok. Hal itu tentu menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi dari peneliti untuk mengetahui kenapa alasan kesehatan yang diajukan oleh perokok, sedangkan rokok tersebut hanya dikonsumsi pada saat perokok sedang bersama dengan teman-temannya. Ternyata perokok tersebut merasa canggung dan kecil hati jika berhadapan dengan teman perokok lainnya (peer group) yang kebanyakan adalah teman dekatnya dan sebagian besar keluarganya. Alasan kesehatan yang diajukan oleh perokok bukan sekedar kesehatan pribadinya saja, namun juga kesehatan orang lain yang menjadi perokok pasif ketika dia sedang aktif merokok.
      Rokok memiliki resiko yang sangat membahayakan bagi kesehatan tubuh. Adanya kondisi yang permisif dari masyarakat kepada perokok membuat rokok tetap eksis. Menarik untuk dikaji lebih lanjut lagi, bahwa rokok ini bukan hanya masalah kesehatan saja, melainkan juga fenomena gaya hidup yang membahayakan. Agen sosialisasi yang gencar seperti media massa, keluarga, masyarakat sangat mempengaruhi pilihan seseorang untuk menjadi perokok atau tidak, ditambah lagi banyaknya perusahaan rokok yang menjadi sponsor event-event yang dekat dengan masyarakat, seperti konser, perlombaan, dan lain sebagainya, dengan menggunakan SPG-SPG seksi untuk menarik perhatian laki-laki yang menjadi pasar utama produk rokok.            
       Sudah saatnya kita harus memikirkan alternatif lain yang lebih sehat dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain sebagai pengganti rokok. Memang tidak semudah yang kita bayangkan, karena rokok memiliki sumbangan besar terhadap permasalah pengangguran di Indonesia, tetapi alangkah baik jika tenaga-tenaga kerja tersebut disalurkan untuk hal-hal yang lebih positif lagi yang tidak hanya memperhatikan apa yang laku dipasaran, tetapi juga memperhatikan segala aspek negatif dan positif dari sebuah produk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar