GAYA HIDUP KONSUMTIF
By
Ahmad Yasser Effendi
(Tulisan koran I, Harian WASPADA: Kamis, 19 Desember 2013)
Dewasa
ini, masyarakat dihadapkan kepada berbagai macam gaya hidup yang bernilai
positif dan juga negatif. Perlu adanya ekstra hati-hati dari masyarakat untuk
memilih mana gaya hidup yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan
kemampuannya, mengingat banyaknya intervensi dari berbagai pihak seperti media
dan lingkungan sosial yang selalu memerlihatkan berbagai produk dari
produsen-produsen kapitalis.
Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas tidak memiliki masalah. Namun demikian, tidak serta merta kebutuhan gaya hidup mereka terpenuhi dari hanya sekedar sandang, pangan dan papan. Kebutuhan mereka untuk memenuhi gaya hidup yang menjadi kontroversi, sampai-sampai muncul anggapan bahwa ‘biaya hidup tidak mahal, tapi biaya kelakuan yang mahal’. Dengan demikian, pemanfaatan keuangan mereka bisa dibilang lebih banyak digunakan kepada pemenuhan gaya hidup.
Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas tidak memiliki masalah. Namun demikian, tidak serta merta kebutuhan gaya hidup mereka terpenuhi dari hanya sekedar sandang, pangan dan papan. Kebutuhan mereka untuk memenuhi gaya hidup yang menjadi kontroversi, sampai-sampai muncul anggapan bahwa ‘biaya hidup tidak mahal, tapi biaya kelakuan yang mahal’. Dengan demikian, pemanfaatan keuangan mereka bisa dibilang lebih banyak digunakan kepada pemenuhan gaya hidup.
Berbeda
dengan masyarakat menengah ke bawah yang sering kali memiliki masalah serius
dalam memenuhi kebutuhan mereka. Tingginya harga kebutuhan pokok seperti
sandang, pangan dan papan mengakibatkan masyarakat menengah ke bawah harus
memutar otak lebih keras untuk mengatur keuangan mereka agar terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan tersebut. Bahkan terkadang tidak terpenuhi karena
sedikitnya pendapatan mereka.
Di Sumatera Utara, terutama di Kota Medan, ada fenomena yang miris di masyarakat, mengingat tinginya intensitas iklan-iklan produk yang ditawarkan oleh produsen melalui media dan lingkungan sosial yang masuk ke dalam benak masyarakat. Fenomena tersebut adalah gaya hidup konsumtif pada semua kalangan masyarakat, dari yang kelas ekonomi atas hingga ke bawah banyak yang terjerumus ke dalam pola gaya hidup konsumtif.
Di Sumatera Utara, terutama di Kota Medan, ada fenomena yang miris di masyarakat, mengingat tinginya intensitas iklan-iklan produk yang ditawarkan oleh produsen melalui media dan lingkungan sosial yang masuk ke dalam benak masyarakat. Fenomena tersebut adalah gaya hidup konsumtif pada semua kalangan masyarakat, dari yang kelas ekonomi atas hingga ke bawah banyak yang terjerumus ke dalam pola gaya hidup konsumtif.
Sebagai contoh kasus
adalah teknologi dan fashion pada
masyarakat di Kota Medan. Teknologi, khususnya teknologi informasi seperti
telepon seluler dan gadget yang
diproduksi untuk pemenuhan kebutuhan akan komunikasi masyarakat dengan
mobilitas tinggi, banyak dipasarkan kepada masyarakat yang tidak membutuhkan
teknologi tersebut. Begitu pula dengan fashion,
kelompok-kelompok masyarakat memiliki persepsinya masing-masih terhadap
pemenuhan fashion mereka. Pada
masyarakat ekonomi menengah ke atas, pemenuhan fashion sering kali menjurus kepada perilaku konsumtif, dikarenakan
gaya hidup dan lingkungan sosial mereka. Perilaku konsumtif mereka terlihat
jelas ketika mereka ikut serta dalam setiap kegiatan sosial seperti acara resmi
dan tidak resmi. Setiap kali mereka akan menghadiri sebuah acara, seminggu atau
sebulan sebelumnya mereka sudah membeli baju baru untuk acara tersebut, begitu
seterusnya setiap kali ada acara pasti mereka akan membeli baju baru. Pada
masyarakat ekonomi menengah ke bawah juga memiliki masalah dalam pemenuhan fashion mereka, di beberpa kawasan slum area (daerah kumuh) di Kota Medan
yang masyarakatnya juga memiliki budaya yang sama dengan masyarakat kelas
ekonomi menengah ke atas, setiap kali ada acara yang mengikutsertakan mereka,
mereka pasti akan membeli baju baru untuk acara tersebut, begitu seterusnya.
Memang tidak dapat kita
pungkiri bahwa perilaku masyarakat yang demikian itu sangat membantu
pertumbuhan ekonomi negara, tetapi sangat miris jika kita bandingkan efeknya
dengan budaya masyarakat. Masyarakat akan selalu bergantung pada produk-produk
baru yang diproduksi oleh produsen-produsen asing yang memanfaatkan gaya hidup
konsumtif di Indonesia. Ditambah lagi dengan sugesti-sugesti tentang produk
lokal yang dalam hal kualitas masih dianggap kalah jauh dengan kualitas produk
impor yang dipasarkan di dalam negeri.
Demikian pun masyarakat
banyak yang memiliki gaya hidup konsumtif dan bahkan ditambah dengan gaya hidup
hedonis, banyak juga masyarakat yang memiliki kesadaran akan pentingnya
mengatur gaya hidup mereka. Dengan memilih hidup sederhana dan tidak terlalu
memikirkan pemenuhan akan keinginan yang dikonstruksikan secara sosial,
masyarakat tersebut merupakan kontrol sosial yang efektif untuk menekan
intensitas perilaku konsumtif dari masyarakat secara keseluruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar