Sabtu, 23 April 2016

Tulisan Koran Pertama

GAYA HIDUP KONSUMTIF
By Ahmad Yasser Effendi

(Tulisan koran I, Harian WASPADA: Kamis, 19 Desember 2013)
    Dewasa ini, masyarakat dihadapkan kepada berbagai macam gaya hidup yang bernilai positif dan juga negatif. Perlu adanya ekstra hati-hati dari masyarakat untuk memilih mana gaya hidup yang sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan kemampuannya, mengingat banyaknya intervensi dari berbagai pihak seperti media dan lingkungan sosial yang selalu memerlihatkan berbagai produk dari produsen-produsen kapitalis.
    Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas tidak memiliki masalah. Namun demikian, tidak serta merta kebutuhan gaya hidup mereka terpenuhi dari hanya sekedar sandang, pangan dan papan. Kebutuhan mereka untuk memenuhi gaya hidup yang menjadi kontroversi, sampai-sampai muncul anggapan bahwa ‘biaya hidup tidak mahal, tapi biaya kelakuan yang mahal’. Dengan demikian, pemanfaatan keuangan mereka bisa dibilang lebih banyak digunakan kepada pemenuhan gaya hidup.
   Berbeda dengan masyarakat menengah ke bawah yang sering kali memiliki masalah serius dalam memenuhi kebutuhan mereka. Tingginya harga kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan mengakibatkan masyarakat menengah ke bawah harus memutar otak lebih keras untuk mengatur keuangan mereka agar terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut. Bahkan terkadang tidak terpenuhi karena sedikitnya pendapatan mereka.
     Di Sumatera Utara, terutama di Kota Medan, ada fenomena yang miris di masyarakat, mengingat tinginya intensitas iklan-iklan produk yang ditawarkan oleh produsen melalui media dan lingkungan sosial yang masuk ke dalam benak masyarakat. Fenomena tersebut adalah gaya hidup konsumtif pada semua kalangan masyarakat, dari yang kelas ekonomi atas hingga ke bawah banyak yang terjerumus ke dalam pola gaya hidup konsumtif.
    Sebagai contoh kasus adalah teknologi dan fashion pada masyarakat di Kota Medan. Teknologi, khususnya teknologi informasi seperti telepon seluler dan gadget yang diproduksi untuk pemenuhan kebutuhan akan komunikasi masyarakat dengan mobilitas tinggi, banyak dipasarkan kepada masyarakat yang tidak membutuhkan teknologi tersebut. Begitu pula dengan fashion, kelompok-kelompok masyarakat memiliki persepsinya masing-masih terhadap pemenuhan fashion mereka. Pada masyarakat ekonomi menengah ke atas, pemenuhan fashion sering kali menjurus kepada perilaku konsumtif, dikarenakan gaya hidup dan lingkungan sosial mereka. Perilaku konsumtif mereka terlihat jelas ketika mereka ikut serta dalam setiap kegiatan sosial seperti acara resmi dan tidak resmi. Setiap kali mereka akan menghadiri sebuah acara, seminggu atau sebulan sebelumnya mereka sudah membeli baju baru untuk acara tersebut, begitu seterusnya setiap kali ada acara pasti mereka akan membeli baju baru. Pada masyarakat ekonomi menengah ke bawah juga memiliki masalah dalam pemenuhan fashion mereka, di beberpa kawasan slum area (daerah kumuh) di Kota Medan yang masyarakatnya juga memiliki budaya yang sama dengan masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas, setiap kali ada acara yang mengikutsertakan mereka, mereka pasti akan membeli baju baru untuk acara tersebut, begitu seterusnya.
    Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa perilaku masyarakat yang demikian itu sangat membantu pertumbuhan ekonomi negara, tetapi sangat miris jika kita bandingkan efeknya dengan budaya masyarakat. Masyarakat akan selalu bergantung pada produk-produk baru yang diproduksi oleh produsen-produsen asing yang memanfaatkan gaya hidup konsumtif di Indonesia. Ditambah lagi dengan sugesti-sugesti tentang produk lokal yang dalam hal kualitas masih dianggap kalah jauh dengan kualitas produk impor yang dipasarkan di dalam negeri.
     Demikian pun masyarakat banyak yang memiliki gaya hidup konsumtif dan bahkan ditambah dengan gaya hidup hedonis, banyak juga masyarakat yang memiliki kesadaran akan pentingnya mengatur gaya hidup mereka. Dengan memilih hidup sederhana dan tidak terlalu memikirkan pemenuhan akan keinginan yang dikonstruksikan secara sosial, masyarakat tersebut merupakan kontrol sosial yang efektif untuk menekan intensitas perilaku konsumtif dari masyarakat secara keseluruhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar