NEGERI
UTOPIA DI PESISIR SELAT MALAKA
Ahmad Yasser Effendi
(Tulisan koran III, Harian WASPADA: Kamis, 5 Juni 2014)
Desa Sei Nagalawan atau lebih dikenal dengan Kampung Nipah merupakan
kawasan pesisir yang memiliki predikat sebagai ekowisata mangrove. Berbagai
jenis tanaman mangrove dapat ditemukan di desa ini. Tidak hanya konservasi
mangrovenya yang menjadi daya tarik, olahan makanan dari tanaman mangrove juga
dapat ditemukan di Kampung Nipah. Mulai dari olahan daun jeruju menjadi kerupuk
berbagai rasa serta buah si api-api yang dikelola menjadi dodol dan kue bolu.
Masyarakat
di Kampung Nipah sangat mengerti akan pentingnya tanaman mangrove untuk menjaga
ekosistem alam serta pengaruhnya kepada mata pencaharian mereka yang sebagian
besar adalah nelayan. Walaupun banyak daerah pesisir di Indonesia yang memiliki
kawasan mangrove yang luas, hanya sedikit yang berhasil dan mampu untuk
mengembangkan serta melestarikannya. Kebanyakan masyarakat menggunakan tanaman
mangrove khususnya tanaman bakau keperluan material bangunan atau kegiatan
rumah tangga. Maka tidak jarang ditemukan tanaman mangrove yang ditebang habis
untuk membangun rumah atau membangun jembatan karena kayunya yang lurus dan
kuat.
Apa yang
ada di Desa Nagalawan sekarang tidak terlepas dari kemampuan manajemen
masyarakat desa tersebut. Berbagai kelompok nelayan baik untuk kaum perempuan
dan laki-laki memiliki peran dan tanggungjawabnya masing-masing. Salah satu
kelompok masyarakat yang ada di Kampung Nipah adalah Kelompok Perempuan Muara
Tanjung. Mereka memiliki sistem manajemen yang sangat mandiri serta kontrol
sosial yang tidak tertulis dan tentunya sangat dipatuhi oleh masyarakat.
Berbeda
dengan masyarakat perkotaan yang pada umumnya tinggal di kawasan gated community yang mereka belum tentu mengenal
tetangga mereka. Walaupun masyarakat perkotaan dominan memiliki struktur
organisasi dan peran yang jelas, mereka belum tentu memiliki solidaritas dan
kolektivitas yang kuat antara satu dengan yang lainnya.
Seperti yang dikemukakan oleh Emile Durkheim bahwa
masyarakat perkotaan umumnya menggunakan solidaritas organik dan masyarakat
pedesaan menggunakan solidaritas mekanik. Masyarakat perkotaan jauh dari kesan
kolektivitas dan gotong royong. Walaupun ada, hal tersebut dapat kita temui di
kawasan ethnic villager (warga suku
dominan). Berbeda dengan pedesaan yang menjunjung tinggi nilai kolektivitas dan
solidaritas sebagai kontrol sosial mereka.
Kampung Nipah merupakan desa yang memiliki keunikan
tersendiri dalam interaksi sosial. Kelembagaan yang mereka miliki seperti
kelompok-kelompok nelayan, secara keseluruhan memang sudah diatur sedemikian
rapih hingga hal paling kecil sekalipun. Tetap saja hukum tidak tertulis lebih
efektif daripada hukum tertulis yang telah mereka sepakati bersama. Beberapa kegitan
yang mereka jalankan dalam kelompok Muara Tanjung misalnya, adalah proses
produksi, pramuniaga di kios, gotong royong, rapat bulanan, rapat tahunan,
serta perputaran keuangan secara keseluruhan berjalan mulus tanpa cacat yang
berarti.
Setiap orang yang ikut serta dalam kelompok Muara Tanjung
memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada patokan untuk kegiatan yang ingin
mereka laksanakan. Semua berlangsung seolah tidak ada regulasi yang mengatur
mereka. Kegiatan harian seperti menjaga toko bisa ditempati oleh siapa saja
yang bersedia, tanpa adanya rasa iri hati dengan keuntungan yang diperoleh dari
hasil yang didapat. Fitur absensi yang mereka gunakan setiap harinya yang diisi
oleh penjaga toko, pembuat olahan mangrove dan lain sebagainya akan mencatat dan
menandai kemana keuntungan dari keuntungan yang mereka peroleh akan dibagi.
Sistem simpan pinjam yang mereka gunakan sangat berdampak
positif untuk memajukan perekonomian mereka. Ditambah lagi Credit Union yang mereka jadikan sebagai sistem keuangan mereka.
Anggota kelompok dapat meminjam uang sewaktu-waktu sesuai dengan jumlah
tabungan mereka jika mereka memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan yang
mendesak atau akan mengadakan acara-acara tertentu.
Banyak hal yang dapat dicontoh dari Desa Sei Nagalawan
atau Kampung Nipah. Baik sistem manajemen sumber daya alam dan manusia, sistem
keuangan dan regulasi secara keseluruhan sangat mudah ditiru dan diterapkan di
berbagai daerah yang memiliki kemiripan dengan Kampung Nipah. Walaupun
solidaritas yang mereka gunakan adalah solidaritas mekanik, tetapi kemampuan
mereka untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan modal sosial mereka sangat baik
dan patut untuk diacungkan jempol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar