Senin, 25 April 2016

Tulisan Koran Ketiga

NEGERI UTOPIA DI PESISIR SELAT MALAKA
Ahmad Yasser Effendi

(Tulisan koran III, Harian WASPADA: Kamis, 5 Juni 2014)
     Desa Sei Nagalawan atau lebih dikenal dengan Kampung Nipah merupakan kawasan pesisir yang memiliki predikat sebagai ekowisata mangrove. Berbagai jenis tanaman mangrove dapat ditemukan di desa ini. Tidak hanya konservasi mangrovenya yang menjadi daya tarik, olahan makanan dari tanaman mangrove juga dapat ditemukan di Kampung Nipah. Mulai dari olahan daun jeruju menjadi kerupuk berbagai rasa serta buah si api-api yang dikelola menjadi dodol dan kue bolu.
      Masyarakat di Kampung Nipah sangat mengerti akan pentingnya tanaman mangrove untuk menjaga ekosistem alam serta pengaruhnya kepada mata pencaharian mereka yang sebagian besar adalah nelayan. Walaupun banyak daerah pesisir di Indonesia yang memiliki kawasan mangrove yang luas, hanya sedikit yang berhasil dan mampu untuk mengembangkan serta melestarikannya. Kebanyakan masyarakat menggunakan tanaman mangrove khususnya tanaman bakau keperluan material bangunan atau kegiatan rumah tangga. Maka tidak jarang ditemukan tanaman mangrove yang ditebang habis untuk membangun rumah atau membangun jembatan karena kayunya yang lurus dan kuat.
      Apa yang ada di Desa Nagalawan sekarang tidak terlepas dari kemampuan manajemen masyarakat desa tersebut. Berbagai kelompok nelayan baik untuk kaum perempuan dan laki-laki memiliki peran dan tanggungjawabnya masing-masing. Salah satu kelompok masyarakat yang ada di Kampung Nipah adalah Kelompok Perempuan Muara Tanjung. Mereka memiliki sistem manajemen yang sangat mandiri serta kontrol sosial yang tidak tertulis dan tentunya sangat dipatuhi oleh masyarakat.
       Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang pada umumnya tinggal di kawasan gated community yang mereka belum tentu mengenal tetangga mereka. Walaupun masyarakat perkotaan dominan memiliki struktur organisasi dan peran yang jelas, mereka belum tentu memiliki solidaritas dan kolektivitas yang kuat antara satu dengan yang lainnya.
       Seperti yang dikemukakan oleh Emile Durkheim bahwa masyarakat perkotaan umumnya menggunakan solidaritas organik dan masyarakat pedesaan menggunakan solidaritas mekanik. Masyarakat perkotaan jauh dari kesan kolektivitas dan gotong royong. Walaupun ada, hal tersebut dapat kita temui di kawasan ethnic villager (warga suku dominan). Berbeda dengan pedesaan yang menjunjung tinggi nilai kolektivitas dan solidaritas sebagai kontrol sosial mereka.
      Kampung Nipah merupakan desa yang memiliki keunikan tersendiri dalam interaksi sosial. Kelembagaan yang mereka miliki seperti kelompok-kelompok nelayan, secara keseluruhan memang sudah diatur sedemikian rapih hingga hal paling kecil sekalipun. Tetap saja hukum tidak tertulis lebih efektif daripada hukum tertulis yang telah mereka sepakati bersama. Beberapa kegitan yang mereka jalankan dalam kelompok Muara Tanjung misalnya, adalah proses produksi, pramuniaga di kios, gotong royong, rapat bulanan, rapat tahunan, serta perputaran keuangan secara keseluruhan berjalan mulus tanpa cacat yang berarti.
      Setiap orang yang ikut serta dalam kelompok Muara Tanjung memiliki kesempatan yang sama. Tidak ada patokan untuk kegiatan yang ingin mereka laksanakan. Semua berlangsung seolah tidak ada regulasi yang mengatur mereka. Kegiatan harian seperti menjaga toko bisa ditempati oleh siapa saja yang bersedia, tanpa adanya rasa iri hati dengan keuntungan yang diperoleh dari hasil yang didapat. Fitur absensi yang mereka gunakan setiap harinya yang diisi oleh penjaga toko, pembuat olahan mangrove dan lain sebagainya akan mencatat dan menandai kemana keuntungan dari keuntungan yang mereka peroleh akan dibagi.
      Sistem simpan pinjam yang mereka gunakan sangat berdampak positif untuk memajukan perekonomian mereka. Ditambah lagi Credit Union yang mereka jadikan sebagai sistem keuangan mereka. Anggota kelompok dapat meminjam uang sewaktu-waktu sesuai dengan jumlah tabungan mereka jika mereka memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak atau akan mengadakan acara-acara tertentu.
     Banyak hal yang dapat dicontoh dari Desa Sei Nagalawan atau Kampung Nipah. Baik sistem manajemen sumber daya alam dan manusia, sistem keuangan dan regulasi secara keseluruhan sangat mudah ditiru dan diterapkan di berbagai daerah yang memiliki kemiripan dengan Kampung Nipah. Walaupun solidaritas yang mereka gunakan adalah solidaritas mekanik, tetapi kemampuan mereka untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan modal sosial mereka sangat baik dan patut untuk diacungkan jempol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar